Skip to main content

Posts

Orang Memanggilnya Si Pesimis

Bukankah kebanyakan orang selalu memulai cerita dengan kata-kata yang begitu murahan seperti, “Pada suatu ketika” atau, “di malam itu” atau yang lebih murahan lagi, “legenda menyebutkan.” Pernah kau memperhatikan itu?

Para ibu senang betul berkata jika kebanyakan kisah tidak benar dan biasanya tidak dimulai seperti apa yang kau harapkan. Mereka dimulai pada suatu hari yang biasa dengan orang-orang biasa.
           Inilah salah satu dari kisah itu...

November sudah hampir habis. Si Pesimis – begitulah orang-orang memanggil dirinya – justru semakin tidak waras. Kesedihannya semakin menjadi-jadi. Kegelisahannya semakin menguasai dirinya. Ketika ia buang tahi sekitar pukul delapan pagi tadi, ia merenung lebih lama dari sebelumnya. Lama ia berjongkok, bukan karena susah mengeluarkan tahi-tahinya, melainkan ia sedang memikirkan banyak hal. Pikirannya penuh, tapi hatinya kosong. Tubuhnya kian menua, tapi hatinya serasa bayi yang cengeng. Lalu, sambil menikmati saat-saat penuh bau itu, Si Pesim…

Mencintai Diri Sendiri

Matahari sudah menyala jingga, namun Renata masih menangis tersedu di teras rumah sesudah membaca buku - judulnya cukup membuat dahi Betty mengkerut. Betty yang menyaksikan langsung membawa diri duduk di sebelah gadis yang baru saja mengalami patah hati.

“Sakit hatimu jangan dibenarkan dengan membaca buku cengeng seperti itu.” kata Betty spontan sambil menarik kursi.
“Setidaknya separuh luka-luka masa laluku terwakilkan di sini. Semua yang terangkum di buku ini sama persis seperti aku yang tengah merayakan kehilangan.” jawab Renata sambil menyeka air matanya.
Betty menyahut, “Anggap saja itu pelajaran datang dari Tuhan. Qod jaaa`atkum mau’izhotum mir robbikum wa syifaaa`ul limaa fish-shuduuri!” (QS Yunus: 57)
“Aku tidak memintamu untuk pamer ayat!”
“Justru pitutur ayat tadi bisa membasuh hatimu yang sedang pilu. Tuhan tidak pernah salah mempertemukanmu dengan seseorang. Terkadang ada luka-luka yang mendewasakan untuk menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik dalam menyayangi sesama.…

Nikmat Sholawat: Diutamakan Saat Kiamat

Tahun 2017 lalu, aku pernah mengulas sedikit pengalaman tentang mengamalkan shalawat bersama teman-temanku. Niat awal hanya ingin mengabadikan perjalanan yang sederhana dan penuh makna. Tetapi di luar dugaan alhamdulillah tulisanku diterima banyak orang, bahkan ada yang termotivasiuntuk ikut mengamalkan sehari seribu shalawat.
Selain yang pernah kutuliskan sebelumnya, sebetulnya sampai sekarang pun banyak keajaiban-keajaiban kecil yang aku dapat berkat fadhilah mengamalkan shalawat. Misalnya sebulan yang lalu aku sempat mengalami kesulitan perekonomian. Uang tabungan sudah defisit untuk menutupi pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga. Apalagi ketika musim nikahan di sana-sini, bayar arisan yang selalu nombokin, ongkos magang yang over budgeting, itu cukup membikin kepalaku mumet tak keruan. Ditambah uang saku yang diberikan ibu tidak seberapa dan kadang masing kurang. Sedihnya aku sampai harus jual kedua cincinku supaya bisa bayar arisan setiap minggunya.
Sampai suatu hari, ketika uan…

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat

Halo pembaca setiaku. Sudah lama kita tidak bersua, ya? Kali terakhir aku menulis beberapa bulan yang lalu, bukan? 
Sebetulnya ada beberapa alasan mengapa aku tidak menulis akhir-akhir ini. Salah satunya yaitu memikirkan tulisan apa yang bisa aku bagi dan juga bermanfaat untuk kamu. Karena sebaik-baiknya tulisan adalah tulisan yang memiliki nilai dan mencerdaskan pembacanya. Tetapi terus-menerus memikirkan hal itu justru membikin kepalaku pusing tak keruan. Takut-takut yang kutulis hanyalah bentuk omong kosong belaka tanpa adanya nilai di dalamnya. Halah alasan! Tapi percayalah aku juga khawatir blog ini akan mati dibunuh ketidakkonsistenanku dalam menulis.
Namun, tulisan ini pun hadir setelah aku sering mendengarkan keluhan orang-orang yang merasa dirugikan karena sudah dimanfaatkan oleh salah satu pihak. “Dia baik karena cuma mau manfaatinku doang!” kata temanku penuh kekesalan di suatu malam yang tenang tanpa hujan. Memang apa ruginya dimanfaatkan orang? Bukankah salah satu karakter…

Dunia Kata, Fauzil Adhim

Dunia Kata, Fauzil Adhim
Beberapa waktu ini, saya memang kurang mengurusi blog. Bahkan kondisinya sekarang terlihat sedikit usang dan berdebu. Kalau tetap tidak saya perhatikan, barangkali usia blog saya tidak akan berumur panjang. Lalu sepi pembaca dan akhirnya mati. Maafkan saya yang masih suka tersesat di belantara kemalasan. Dengan ini saya berjanji untuk lebih sering lagi menulis.
“Setiap orang bisa menulis!” Setelah mendengar kata-kata tersebut dari dosen saya, saya pun memilih untuk menulis. Dulu sekali di awal saya membuat blog ini, saya tidak pernah memikirkan dengan matang, isi, konten, dan pesan apa yang akan saya sampaikan kepada para pembaca. Semua saya tulis dengan suka-suka. Hal-hal yang remeh-temeh pun tak pernah absen untuk saya tuliskan. Lebih sering saya menulis tentang patah hati. Cengeng sekali isi tulisan saya dulu. Bila diingat kembali, tujuan menulis saya lebih mengarah pragmatis saja. Tidak ada ideal-idealnya. Saya melakukannya hanya demi kesenangan belaka (baca…

Dunia Maya dan Hiperrealitas

Dunia Maya dan Hiperrealitas
Setelah dipikir-pikir lagi, dulu cukup intens berselancar di media sosial, khususnya Instagram. Jempol digunakan untuk menyukai foto sana-sini. Bahkan saya bisa mengunggah foto hampir setiap hari. Dan itu ternyata membikin cukup banyak orang yang menyukai foto saya.
Sekarang ini, saya makin malas berselancar di media sosial. Tepatnya merasa bosan karena yang didapat hanya itu-itu saja. Akhirnya semakin jarang lah membuka Instagram. Update foto baru juga terbilang jarang, bisa berbulan-bulan malah. Dampaknya, followers saya banyak yang pada mabur. Mungkin beranggapan pemilik akunnya sudah tak aktif lagi.Di samping itu, ketika mengunggah konten baru pun like yang didapat tak sebanyak dulu. Bisa dikatakan, dulu memang saya segila itu dengan Instagram.
Barangkali karena eksistensi saya di media sosial mulai memudar, ditambah sekarang saya tak lagi gila like. Jadi merasa bodo amat jika like yang saya dapat hanya secuil saja. Apalagi sayamakin tak berselera untuk …

Izinkan Aku Bertualang

Izinkan Aku Bertualang, Ibu.

*Suatu hari*
"Bu, aku mau ke Pare, ya." "Ada keperluan apa ke sana?" "Mau ke Kampung Inggris. Belajar intensif di sana." "Biar apa, sih. Nanti yang ada malah keluyuran nggak jelas. Duitnya memang punya?" "Iya, nggak jadi berangkat."
*Di hari berikutnya*
"Bu, ada buku baru yang kepengin aku beli. Tapi uang saku ku kurang." "Beli buku melulu. Nggak ada uang juga Ibu." Keesokannya: "Dek, coba lihat baju pengajian baru punya Ibu. Bagus toh?" -(Menunjukkan gamis baru berwarna hijau toska itu kepadaku) "Aku minta dibelikan buku, Ibu tak mau. Ibu bilang nggak ada uang toh?" "Teman-teman Ibu pada punya seragam baru. MasakIbu pakai baju yang lama. Malu." "Aku juga perlu buku baru untuk menambah wawasanku." "Buat apa pintar, jika akhirnya hanya mengurus dapur dan sumur." "Buat apa pergi ke Majelis Ilmu, jika hanya memikirkan baju baru."
*Di hari yang …