Skip to main content

Posts

Dunia Kata, Fauzil Adhim

Dunia Kata, Fauzil Adhim Beberapa waktu ini, saya memang kurang mengurusi blog. Bahkan kondisinya sekarang terlihat sedikit usang dan berdebu. Kalau tetap tidak saya perhatikan, barangkali usia blog saya tidak akan berumur panjang. Lalu sepi pembaca dan akhirnya mati. Maafkan saya yang masih suka tersesat di belantara kemalasan. Dengan ini saya berjanji untuk lebih sering lagi menulis. “Setiap orang bisa menulis!” Setelah mendengar kata-kata tersebut dari dosen saya, saya pun memilih untuk menulis. Dulu sekali di awal saya membuat blog ini, saya tidak pernah memikirkan dengan matang, isi, konten, dan pesan apa yang akan saya sampaikan kepada para pembaca. Semua saya tulis dengan suka-suka. Hal-hal yang remeh-temeh pun tak pernah absen untuk saya tuliskan. Lebih sering saya menulis tentang patah hati. Cengeng sekali isi tulisan saya dulu. Bila diingat kembali, tujuan menulis saya lebih mengarah pragmatis saja. Tidak ada ideal-idealnya. Saya melakukannya hanya demi kesenangan...

Dunia Maya dan Hiperrealitas

Dunia Maya dan Hiperrealitas Setelah di pikir-pikir lagi, dulu cukup intens berselancar di media sosial, khususnya Instagram. Jempol di gunakan untuk menyukai foto sana-sini. Bahkan saya bisa mengunggah foto hampir setiap hari. Dan itu ternyata membikin cukup banyak orang yang m enyukai foto saya . Sekarang ini, saya makin malas berselancar di media sosial. Tepatnya merasa bosan karena yang didapat hanya itu-itu saja. Akhirnya semakin jarang lah membuka Instagram. Update foto baru juga terbilang jarang, bisa berbulan-bulan malah. Dampaknya, followers saya banyak yang pada mabur. Mungkin beranggapan pemilik akunnya sudah tak aktif lagi.   Di samping itu, ketika me ngunggah konten baru pun like yang di dapat tak sebanyak dulu. Bisa dikatakan, dulu memang saya segila itu dengan Instagram. Barangkali karena eksistensi saya di media sosial mulai memudar, ditambah sekarang saya tak lagi gila like . Jadi merasa bodo amat jika like yang saya dapat hanya secuil sa...

Izinkan Aku Bertualang

Izinkan Aku Bertualang, Ibu. *Suatu hari* "Bu, aku mau ke Pare, ya." "Ada keperluan apa ke sana?" "Mau ke Kampung Inggris. Belajar intensif di sana." "Biar apa, sih. Nanti yang ada malah keluyuran nggak jelas. Duitnya memang punya?" "Iya, nggak jadi berangkat." * Di hari berikutnya * "Bu, ada buku baru yang kep e ngin aku beli. Tapi uang saku ku kurang." "Beli buku melulu. Nggak ada uang juga Ibu." Keesokannya: "Dek, coba lihat baju pengajian baru punya I bu. Bagus toh?" -           (Menunjukkan gamis baru berwarna hijau toska itu kepadaku) "Aku minta dibelikan buku, I bu tak mau. Ibu bilang nggak ada uang toh?" "Teman-teman I bu pada punya seragam baru. Masak I bu pakai baju yang lama. Malu." "Aku juga perlu buku baru untuk menambah wawasanku." "Buat apa pintar, jika akhirnya hanya mengurus dapur dan sumur." "Buat apa p...

Ketika Busanamu Mengundang Hawa Nafsu

Dewasa ini, kasus pelecehan seksual terhadap wanita seolah tumbuh subur. Tak diberantas sampai tuntas. Lalu bagaimana perempuan bisa merasa aman jika nafsu lelaki semakin beringas? Ada banyak faktor mengapa kasus pelecehan sesksual masih marak terjadi. Sebenarnya kesalahan tidak sepenuhnya ada di laki-laki. Tapi, dari sikap perempuan pun bisa memicu terjadinya perbuatan asusila tersebut. Kucing tidak akan menjadi garong kalau tidak ada ikan, bukan? Sama halnya dengan lelaki, dia tidak akan bersikap bejat kalau tidak ada yang menggoda syahwatnya. Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan perempuan di kereta listrik yang biasa saya naiki. Kondisi kereta lumayan sesak dipenuhi penumpang. Semua penumpang saling berimpit-impitan.   Bisa saja keadaan seperti ini dijadikan lelaki hidung belang sebagai ajang aji mumpung. Pegang sana pegang sini. Perempuan yang saya temui itu mengenakan rok lumayan pendek. Pahanya terlihat ke mana-mana. Bahkan saya perhatikan, ada banyak mata ...

Sehari Seribu Sholawat (Part II)

Sehari Seribu Sholawat Bismillaahir Rahmaanir Rahiim... Ini adalah cerita keduaku setelah mengamalkan sehari seribu sholawat. Tahun lalu sempat nggak percaya, sih, bisa pergi jalan-jalan ke Lampung berkat ngamalin sholawat.  Tapi sekarang – meskipun suka mangkir nggak sholawatan – percaya banget, kalau sholawat itu banyak manfaatnya. Sekali lagi kutegaskan, aku menulis cerita ini, bukan maksud ingin dianggap paling baik, sok suci, riya atau apa pun itu yang substansinya negatif. Aku menceritakan pengalamanku ini murni karena ingin mengajak khalayak untuk selalu mengamalkan sholawat setiap hari. Berbagi kisah inspiratif nggak harus Ustadz atau motivator, kan? Orang biasa sepertiku juga boleh, kan? Selagi ada hal benar yang bisa diambil kenapa nggak, iya kan? Eh, iya, iya, nggak basa-basi lagi, deh. Yasudah langsung disimak, ya! Jangan lupa siapkan segelas kopi, supaya kamu semakin menikmati sepotong kisahku ini. He he he… Sebelum mulai ke cerita, aku hendak mem...