Skip to main content

Posts

Izinkan Aku Bertualang

Izinkan Aku Bertualang, Ibu. *Suatu hari* "Bu, aku mau ke Pare, ya." "Ada keperluan apa ke sana?" "Mau ke Kampung Inggris. Belajar intensif di sana." "Biar apa, sih. Nanti yang ada malah keluyuran nggak jelas. Duitnya memang punya?" "Iya, nggak jadi berangkat." * Di hari berikutnya * "Bu, ada buku baru yang kep e ngin aku beli. Tapi uang saku ku kurang." "Beli buku melulu. Nggak ada uang juga Ibu." Keesokannya: "Dek, coba lihat baju pengajian baru punya I bu. Bagus toh?" -           (Menunjukkan gamis baru berwarna hijau toska itu kepadaku) "Aku minta dibelikan buku, I bu tak mau. Ibu bilang nggak ada uang toh?" "Teman-teman I bu pada punya seragam baru. Masak I bu pakai baju yang lama. Malu." "Aku juga perlu buku baru untuk menambah wawasanku." "Buat apa pintar, jika akhirnya hanya mengurus dapur dan sumur." "Buat apa p...

Ketika Busanamu Mengundang Hawa Nafsu

Dewasa ini, kasus pelecehan seksual terhadap wanita seolah tumbuh subur. Tak diberantas sampai tuntas. Lalu bagaimana perempuan bisa merasa aman jika nafsu lelaki semakin beringas? Ada banyak faktor mengapa kasus pelecehan sesksual masih marak terjadi. Sebenarnya kesalahan tidak sepenuhnya ada di laki-laki. Tapi, dari sikap perempuan pun bisa memicu terjadinya perbuatan asusila tersebut. Kucing tidak akan menjadi garong kalau tidak ada ikan, bukan? Sama halnya dengan lelaki, dia tidak akan bersikap bejat kalau tidak ada yang menggoda syahwatnya. Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan perempuan di kereta listrik yang biasa saya naiki. Kondisi kereta lumayan sesak dipenuhi penumpang. Semua penumpang saling berimpit-impitan.   Bisa saja keadaan seperti ini dijadikan lelaki hidung belang sebagai ajang aji mumpung. Pegang sana pegang sini. Perempuan yang saya temui itu mengenakan rok lumayan pendek. Pahanya terlihat ke mana-mana. Bahkan saya perhatikan, ada banyak mata ...

Sehari Seribu Sholawat (Part II)

Sehari Seribu Sholawat Bismillaahir Rahmaanir Rahiim... Ini adalah cerita keduaku setelah mengamalkan sehari seribu sholawat. Tahun lalu sempat nggak percaya, sih, bisa pergi jalan-jalan ke Lampung berkat ngamalin sholawat.  Tapi sekarang – meskipun suka mangkir nggak sholawatan – percaya banget, kalau sholawat itu banyak manfaatnya. Sekali lagi kutegaskan, aku menulis cerita ini, bukan maksud ingin dianggap paling baik, sok suci, riya atau apa pun itu yang substansinya negatif. Aku menceritakan pengalamanku ini murni karena ingin mengajak khalayak untuk selalu mengamalkan sholawat setiap hari. Berbagi kisah inspiratif nggak harus Ustadz atau motivator, kan? Orang biasa sepertiku juga boleh, kan? Selagi ada hal benar yang bisa diambil kenapa nggak, iya kan? Eh, iya, iya, nggak basa-basi lagi, deh. Yasudah langsung disimak, ya! Jangan lupa siapkan segelas kopi, supaya kamu semakin menikmati sepotong kisahku ini. He he he… Sebelum mulai ke cerita, aku hendak mem...

Kilas Balik 2017

RESOLUSI? Gue punya sedikit keresahan tentang resolusi gue di tahun 2018 ini. Bukan, bukan maksudnya gue nggak punya target hidup atau pun mimpi. Tapi, setiap gue membuat rencana hidup selama satu tahun ke depan, nggak ada satu pun yang berhasil gue gapai. Sebentar, jangan dulu salah mengartikan. Nggak berhasil digapai bukan berarti gue gak berusaha untuk mengapai apa yang gue cita-citakan. Masalahnya, apa yang gue rencanakan dengan apa yang Allah kehendaki amat jauh berbeda. Beberapa tahun lalu sebelum masuk kuliah, gue membuat rencana hidup untuk lima tahun ke depan. Awalnya ini hanya tugas yang diberikan oleh guru BP. Beliau meminta semua murid untuk membuat rencana hidup dari lulus SMA sampai lima tahun yang akan datang. Jujur, gue kesulitan. Sebab gue nggak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Dengan niat yang kuat, gue berhasil menyelesaikan tugas itu. Hal lain yang bikin gue kesulitan merancang target hidup; gue salah satu spesies manusia yang hidupnya nggak tera...